SEJARAH INDOMARET

INDOMARET merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari dengan luas penjualan kurang dari 200 m2. Dikelola oleh PT Indomarco Prismatama, gerai pertama dibuka pada November 1988 di Kalimantan.

hun 1997, perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia, setelah Indomaret teruji dengan lebih dari 230 gerai. Pada Mei 2003, Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Waralaba 2003” dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kini Indomaret mencapai lebih dari 4000 gerai. Dari total itu 52% adalah milik sendiri dan sisanya milik masyarakat, yang tersebar di kota-kota di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, dan Medan. Di tahun mendatang akan dibuka cabang baru: Cirebon, Palembang, dan Ujungpandang.

Indomaret mudah ditemukan di daerah perumahan, gedung perkantoran dan fasilitas umum karena penempatan lokasi gerai didasarkan pada motto “mudah dan hemat”. Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan non-makanan tersedia dengan harga bersaing, memenuhi hampir semua kebutuhan konsumen sehari-hari.

Didukung oleh pusat distribusi, yang menggunakan teknologi mutakhir, Indomaret merupakan salah satu aset bisnis yang sangat menjanjikan. Keberadaan Indomaret diperkuat oleh anak perusahaan di bawah bendera grup INTRACO, yaitu Indogrosir, BSD Plaza, dan Charmant.

 

KEKUATAN DAN KELEMAHAN DARI INDOMARET
Indomaret merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari dengan luas penjualan kurang dari 200 M2. Dikelola oleh PT Indomarco Prismatama, cikal bakal pembukaan Indomaret di Kalimantan dan toko pertama dibuka di Ancol, Jakarta Utara.
Tahun 1997 perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia, setelah Indomaret teruji dengan lebih dari 230 gerai. Pada Mei 2003 Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Waralaba 2003″ dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
Hingga Desember 2009 Indomaret mencapai 3892 gerai. Dari total itu 2156 gerai adalah milik sendiri dan sisanya 1736 gerai waralaba milik masyarakat, yang tersebar di kota-kota di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali dan Lampung. Di DKI Jakarta terdapat sekitar 488 gerai.
Indomaret mudah ditemukan di daerah perumahan, gedung perkantoran dan fasilitas umum karena penempatan lokasi gerai didasarkan pada motto “mudah dan hemat”.

1. Strengths ( kekuatan )
• Indomaret telah mengembangkan franchise yang mempunyai tujuan menjadi assets nasional dalam bentuk jaringan ritail waralaba yang unggul dalam persaingan nasional.
• Investasi franchise Indomaret yang ditawarkan sangat kompetitif,bila dibandingkan dengan Alfamart. Indomaret berkisar antara 300 juta sampai dengan 350 juta,sedangkan Alfamart berkisar antara 300 juta sampai 400 juta.
• Penempatan lokasi pabrik dan head office di beberapa wilayah yang sudah cukup strategis.
• Tingkat upah karyawan yang relatif rendah berkisar 600 ribu rupiah perbulan. Sehingga mampu menekan biaya operasional serendah mungkin.
• Pertumbuhan frainchise Indomaret yang terbukti tinggi di setiap tahunnya.
• Indomaret adalah salah satu franchise yang bergerak dibidang ritail yang siap go Internasional.
• Indomaret mampu menjual barang eceran dengan harga lebuh murah,karena Indomaret mengambil pasokan barang dari salah satu distributor terbesar produk kebutuhan sehari-hari yaitu Indomarco.
• Indomaret merupakan pelopor waralaba bidang ritail di Indonesia. Indomaret mewaralabakan sejak tahun 1997.
2. Weaknesses ( kelemahan )
• Franchise fee yang ditawarkan ralatif tinggi. Franchise fee yang ditawarkan Indomaret yaitu 75 juta rupiah per 5 tahun,sedangkan Alfamart 45 juta rupiah per 5 tahun.
• Berbagai daerah kurang mengenal Indomaret,karena kurangmya promosi.
• Break Event Points yang ditawarkan Indomaret 4 tahun,sedangkan Alfamart antara 3-4 tahun.
3. Opportunities ( peluang )
• Masih terdapat beberapa daerah yang potensial namun belum dimasuki oleh Indomaret. Dengan waralaba Indomaret dapat lebih mudah melakukan eksploitasi ke daerah-daerah yang potensial tresebut.
• Dengan adanya perdagangan bebas, maka peluang mengembangkan franchise akan semakin besar.
• Perlunya promosi yang lebih gencar agar franchise Indomaret lebih dikenal dan laku di pasaran.
• Adanya pangsa pasar yang cukup menjanjikan, dimana di Indonesia bisnis waralaba dalam 1-2 tahun semakin tubuh subur 12,5 %.
• Mempunyai kesempatan untuk memperluas jaringan secara lebih cepat dengan menggunakan modal seminimal mungkin.

ANCAMAN USAHA INDOMARET

Saat ini banyak sekali merek produk yang beredar di pasar. Merek apa yang akan dipilih atau lebih disukai akan ditentukan oleh bagaimana sikap konsumen atas bermacam-macam merek. Proses ini biasanya terjadi setelah melalui prosedur evaluasi atribut. Dengan kata lain, kebanyakan pembeli mempertimbangkan beberapa atribut dalam keputusan pembelian mereka.
Pada dasarnya konsumen memiliki sikap yang berbeda-beda dalam memandang atribut-atribut yang dianggap relevan dan penting. Mereka akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dalam perjalanannya, perhatian terhadap atribut tersebut berkembang menjadi keyakinan. Selanjutnya, kumpulan dari keyakinan-keyakinan tersebut membentuk citra merek yang berbeda-beda. Perbedaan ini dikarenakan perbedaan pengalaman konsumen yang diakibatkan oleh proses penyaringan sebagai dampak dari persepsi selektif, distorsi selektif, dan ingatan selektif.

Karena itu, jika pemasar mengetahui bobot yang diberikan konsumen masing-masing atribut yang ditawarkan suatu merek, pemasar dapat meramalkan merek yang akan dipilih oleh konsumen. Customer value merupakan gambaran dari atribut seperti harga, layanan, dan parameter lain yang dirasakan konsumen. Juga emotional value yang mampu mendorong nilai performance produk yang dirasakan oleh konsumen. Dengan begitu customer value merupakan gambaran keseluruhan dari kerangka strategi yang dijalankan oleh perusahaan.
Dalam kaitannya dengan minimart, seperti diketahui, persaingan antara Indomaret dan Alfamart saat ini begitu ketat. Masing-masing berusaha mendapatkan lokasi yang strategis sehingga tak jarang mereka berada di satu lokasi yang hanya dipisahkan oleh jalan lalu lintas. Mereka juga berlomba memberikan hadiah dan harga murah. Logikanya bila salah satu dari minimart tersebut menawarkan atribut – misalnya harga murah — yang lebih tinggi, tentunya konsumen akan memilih salah satu minimarket tersebut. Nyatanya, dua-duanya masih bertahan meski di satu lokasi.

Visi IDM

Menjadi aset nasional dalam bentuk jaringan ritel waralaba dalam persaingan global

Misi

Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, kerjasama kelompok, kemajuan melalui inovasi yang ekonomis serta  mengutamakan kepuasan konsumen

 

 

Bisnis Unit :

SWOT

Bobot setiap faktor dari Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat diberi nilai = 1,00, sedangkan untuk Rating setiap faktor diberi kriteria :

 

Rating 1                       :  Pengaruhnya kurang sekali

Rating 2                       :  Pengaruhnya kurang

Rating 3                       :  Pengaruhnya sedang

Rating 4                       :  Pengaruhnya kuat

Rating 5                       :  Pengaruhnya kuat sekali

 

 

FAKTOR INTERNAL PERUSAHAAN

 

Faktor Strategi perusahaan

 

STRENGTH Nilai Bobot Rating Skor
1 Brand image yang kuat

Di masyarakat

3 0,13 2 0.26
2 Pelayanan yang cukup memuaskan 4 0,17 2 0,34
3  Lokasi yang mudah di jangkau / strategis 3 0,13 1 0.13
4  SDM yang berkualitas 4 0,17 2 0.34
5 Harga yang bersaing dan terjangkau 3 0,13 3 0.39
6 Kualitas produk yang baik dan pendisplay an yg rapi dan menarik 2 0,08 1 0.08
7 Promosi yang menarik 4 0,17 2 0,34
TOTAL 23 0,98 12 1.88

 

 

WEAKNESS Nilai Bobot Rating Skor
1  Sering terjadi pencurian di toko 2 0.15 -3 -0.45
2 Kurangnya fasilitas CCTV di setiap store 3 0.23 -2 -0.46
3 Sering terjadi kesalahan price tag / harga produk 3 0.23 -3 -0.69
4 Disiplin waktu yang lemah 2 0.15 -3 -0.45
5 Penyebaran leaflet yang kurang maksimal 3 0.23 -3 -0.69
TOTAL 13 0,99 -14 -2,74

 

 

 

FAKTOR EKSTERNAL PERUSAHAAN

Faktor Strategi

THREAT Nilai Bobot Rating Skor
 
1 Jarak antara kompetitor yang terlalu dekat ( radius 100 M ) 3 0.40 -2 -0.80
2 Ancaman PERDA ttg kemajuan UKM tradisional 2 0.20 -2 -0.40
TOTAL 5 0,60 -4 -1.20

 

 

 

 

OPPORTUNITY Nilai Bobot Rating Skor
1 Pelopor perusahaan retai di Indonesia 3 0.27 3 0.81
2  Ekspansi DC dan branch di seluruh indonesia 3 0.27 2 0.54
3 Kepemilikan gerai secara franchise yg semakin meningkat 2 0.18 3 0.54
4 Indomaret melayani penjualan tiket pesawat dan kereta api tanpa harus antri di stasiun/ bandara 3 0.27 2 0.54
TOTAL 11 0,99 10 2,43

 

Kesimpulan:

Berdasarkan hasil-hasil yag didapat dari analisis internal dan eksternal pada table, seperti dituliskan di atas, hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut:

 

* Skor Total Kekuatan            : 1.88

* Skor Total Kelemahan         : -2,74

* Skor Total Peluang               : 2.43

* Skor Total Ancaman            : -1,20

 

Berpijak dari skor total ini, maka penentuan  PT INDOMARCO PRISMATAMA (INDOMARET ) dapat digambar sebagai Matrik SWOT yang dapat dilihat pada Gambar di bawah.

Untuk mencari koordinatnya, dapat dicari dengan cara sebagai berikut:

 

Koordinat analiisis Internal:

(skor total kekuatan – skor total kelemahan) : 2 =

(1.88 – 2,74) : 2 = -0.43

 

Koordinat analiisis Eksternal:

(skor total peluang – skor total ancaman) : 2 =

(2.43 – 1.20) : 2 = 0,62

 

Jadi titik koordinatnya terletak pada (-0.43 ; 0.62)

 

DIAGRAM SWOT

Kuadran

Posisi Titik Luas Matrik Ranking Prioritas Strategi

I

(1,80;2,43)

4,37

2

Growth

II

(2,74;2,43)

6,66

1

Stabilitas

III

(2,74;1,20)

3.23

3

Penciutan

IV

(1,88;1,20)

2,26

4

Kombinasi

Berdasarkan diagram bobot dan rating setiap unsur matrik SWOT sebagaimana disajikan di atas dapat diketahui bahwa posisi perusahaan / Instansi pada saat ini berada pada Kuadran II yaitu kuadran  ( stability)  dimana strategi umum yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan kekuatan peruhaan utuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada.

Prioritas Pertama

Expansi bisnis ke luar pulau dan pembukaan DC di luar pulau

Faktor Penentu Keberhasilan

– SDM yang memiliki kompetensi dibidangnya

–  Armada yang memadai

–  Sistem IT yang canggih

–  Menanamkan Brand Image INDOMARET di masyarakat

Output

Mengcover kebutuhan ritel di luar pulau

Outcame

Makin meningkatnya jumlah konsumen yg belanja di indomaret

Impact

Citra perusahaan semakin baik

Prioritas Kedua

Penambahan jumlah gerai indomaret

 

 

Faktor penentu keberhasilan

Grand opening gerai indomaret

Output

Sistem IT yg canggih

Outcame

Harga yang kompetitif

Impact

Brand Image indomaret yg melekat ke konsumen

Prioritas Ketiga

Mengadakan pelatihan untuk pegawai (khususnya Frontline)

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Sumber Daya Manusia (SDM)

 

Output

Pelatihan bagi frontline

 

Outcame

Frontline yang mempunyai skill best service

 

Impact

–          Melayani customer dengan best service

–          Customer satisfy dan menjadi loyal kepada indomaret

–          Laba semakin meningka

 

 

Program Kerja

Competitive Advantage

Cost Advantage

Differentation Advantage

Marketing Advantage

Short Cours Variable Cost :

Persaingan harga yang kompetitif dgn kompetitor

Product Differentation :

Memberikan harga hemat setiap akhir pekan

Distribution :

Penyebaran brosur ke customer

Biaya Pemasaran :

Perusahaan akan mendapatkan laba bila customer  belanja lebih banyak

Service Quality:

  • Memberikan jaminan atau garansi.
  • Memberikan reward pada konsumen
Usaha Penjualan:

Dengan menawarkan langsung ke kalangan member khusus disertai dengan  pemberian hadiah yg menarik

Biaya Operasional :

Memanfaatkan fasilitas dari IT yg canggih, seperti internet, wifi

Brand Reputation:

  • INDOMARET
  • Gerai retail dgn harga yg kompetitif
Brand Awareness:

  • INDOMARET
  • Memperoleh banyak penghargaan
Program kerjasama dengan supplier local dan internasional Variable Cost

Study banding ke luar negeri

Product Differentation:

Memiliki SDM (pegawai) yang kompeten di bidangnya.

Distribution:

Menggunakan jaringan yang luas dgn pihak supplier

Biaya Pemasaran:

Memberikan kemudahan kerjasama selanjutnya, bila kerjasama sebelumnya terbukti efektif dan memberikan manfaat.

Service Quality:

  • Kerjasama yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan kerjasama.
  • Mendapat free goods

Untuk pengambilan produk dengan jumlah tertentu

Usaha Penjualan:

Melakukan kunjungan gerai retailyg terkait  baik nasional ataupun internasional.

Pembukaan gerai convenience didalam kantor /hotel Variable Cost:

Pemenuhan barang dari DC

Product Differentation:

  • Konsep simple & cheap
  •  Tersedia fasilitas jaringan wi fi gratis

 

 

Distribution;

  • Melalui media iklan
  •  poster
Biaya Pemasaran:

Meningkatkan jumlahloyalitas konsumen

Service Quality;

  • Penyediaan fasilitas pesan antar
  • Store yang bersih dan nyaman

 

Usaha Penjualan:

  • Dengan kunjungan atau roadshow ke sekolah-sekolah unggulan
  • Mengikuti event-event  atau pameran
  • Melalui website Indomaret

 

 

Biaya Operasional;Lokasi store masih satu area dengan DC terdekat Brand Reputation;

  • INDOMARET
Brand Awareness;

  • INDOMARET MUDAH DAN HEMAT

 

 

 

Strategi / Kebijakan

Tujuan

Strategis

Program

Kerja

Ukuran Hasil

(Lag Indicator)

Faktor Pendorong (Lead Indicator)

Pengembangan Pasar Memperkuat jaringan kerjasama di tingkat nasional dan internasional untuk meningkatkan pelayanan yang relevan dengan menjawab masalah atau kebutuhan empiris di tingkat nasional dan internasional Program kerjasama dengan Distributor  di tingkat nasional dan internasional Jumlah kerjasama yang ada Menjalin kerjasama dengan principel tingkat nasional dan internasional secara intensif
member khusus Jumlah  member Membuat programharga heboh diminati oleh konsumen
Pengembangan Produk Memberikan  program promosi harga hemat pada setiap akhir pekan dan memberikan harga khusus pada member khusus

 

 

 

 

 

Sarana promosidan hadiah buat konsumer Jumlah konsumen yang meningkat Membuat program promosi inil diminati oleh konsumen

 

Business Process Reengineering

Business Process Reengineering dikenal juga dengan istilah Business Process Redesign (Perancangan Ulang Proses Bisnis), Business Transformation, atau Business Process Change Management. Business Process Reengineering (BPR) dimulai sebagai teknik sektor privat untuk mendukung organisasi secara fundamental memikirkan kembali bagaimana mereka mengerjakan bisnis yang mampu meningkatkan jasa kepada pelanggan, memotong biaya operasional dan menjadi kompetitor kelas dunia. Kunci utama dalam perancangan ulang adalah pengembangan sistem informasi dan jaringan. Organisasi-organisasi besar semakin banyak menggunakan teknologi ini untuk lebih mendukung proses bisnis yang inovatif dibanding memperbaiki metode kerja pada saat yang sama.

BPR meliputi analisis dan perancangan alir kerja (workflow) dan proses-proses dalam sebuah organisasi. Berdasarkan Daven ports (1990), proses bisnis adalah sekelompok tugas-tugas yang saling berhubungan secara logis, dilaksanakan untuk mencapai sebuah hasil bisnis yang jelas.

Re-engineering (“rekayasa ulang”) adalah dasar dari perkembangan-perkembangan manajemen yang muncul belakangan ini. Tim lintas-fungsional (Cross-functional team), contohnya, telah banyak dikenal karena perannya dalam perancangan ulang tugas-tugas fungsional yang terpisah menjadi proses-proses lintas-fungsional yang lengkap.

Dalam kerangka kerja untuk penaksiran dasar terhadap misi dan tujuan, perancangan ulang memfokuskan kepada proses bisnis organisasi – langkah-langkah dan prosedur yang mengendalikan bagaimana sumber daya digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar yang khusus. Proses bisnis dapat disusun kembali menjadi aktivitas-aktivitas spesifik, diukur, dimodelkan dan diperbaiki. Dapat pula dirancang ulang secara keseluruhan atau dieliminasi sekaligus. Perancangan ulang mengidentifikasikan, menganalisa, dan merancang ulang proses inti bisnis organisasi dengan tujuan untuk mencapai hasil maksimal dalam ukuran kinerja kritis seperti biaya, kualitas, jasa dan kecepatan.

Perancangan ulang membagi-bagi proses bisnis menjadi sub-sub proses dan tugas yang dilaksanakan oleh beberapa area fungsional terspesialisasi dalam organisasi. Seringkali tidak seorang pun yang bertanggung jawab atas kinerja keseluruhan proses. Perancangan ulang memaksimalkan kinerja subproses yang akan menghasilkan beberapa keuntungan, namun tidak menjanjikan peningkatan yang dramatis jika prosesnya sendiri tidak efisien dan tertinggal.

Untuk alasan itu, perancangan ulang memfokuskan pada merancang kembali proses secara keseluruhan untuk mencapai keuntungan maksimal bagi organisasi dan pelanggan. Hal ini berbeda dengan proses yang memfokuskan pada peningkatan fungsional atau incremental saja.

Peran TI ( Teknologi Informasi )

Teknologi informasi berperan penting dalam konsep perancangan ulang. Pada masa sekarang, TI merupakan pendorong besar bagi beberapa bentuk kinerja dan kolaborasi di dalam dan luar organisasi.

 

Beberapa peran TI dalam BPR:

  • Basis data yang dibagi-bagikan (shared databases), membuat informasi tersedia pada banyak tempat.
  • Sistem ahli (expert systems) memungkinkan para generalis untuk melaksanakan tugas spesialis.
  • Jaringan telekomunikasi (telecommunication networks), memungkinkan organisasi dapat disentralisasikan dan didesentralisasikan dalam waktu yang sama.
  • Perlengkapan pengambilan keputusan (decision-support tools), memungkinkan pengambilan keputusan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
  • dibawa (portable computer), memungkinkan personel lapangan bekerja secara independent.
  • Videodisk interaktif (interactive videodisk), untuk mendapatkan kontak langsung dengan pembeli potensial.
  • Identifikasi otomatis dan pelacakang (automatic identification and tracking), memungkinkan sesuatu untuk melaporkan dimana mereka berada bukan menunggu untuk ditemukan.
  • Perhitungan kinerja tinggi (high performance computing), memungkinkan perencanaan on-the-fly (diciptakan pada saat dibutuhkan) dan perbaikan.

Di pertengahan tahun 1900-an, sistem manajemen alur kerja dianggap seabgai kontributor penting dalam meningkatkan efisiensi proses antara lain para vendor ERP (Enterprise Resource Planning), seperti SAP, JD Edwards, Oracle dan PeopleSoft.

 

 

 

 

 

 

 

 

PROTOTYPE

 

PENGERTIAN PROTOTYPE

merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksiselama proses pembuatan sistem.Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinyatanpa menyebutkan secara detal output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apasaja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma,kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer.Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus dibutuhakankerjasama yang baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelangganakan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan system yang diinginkan. Dengan demikianakan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototypedibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnyadan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas dan implementasi yang sudahditentukan.

 

Tahapan-tahapan Prototyping

 

Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan kebutuhan.Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format  seluruh perangkatlunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
  2. Membangun prototyping.Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
  3. Evaluasi protoptyping.Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudahsesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil.Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangu langkah 1, 2 , dan 3.
  4. Mengkodekan system.Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
  5. Menguji system.Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulusebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain
  6. Evaluasi Sistem.Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yangdiharapkan . Juka ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
  7. Menggunakan system.Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

 

 

Keunggulan prototyping adalah:

 

1 .Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan

2 .Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan

3. Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan system

4. Lebih menghemat waktu dalam pengembangan system

5. Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.

 

 

 

 

Kelemahan prototyping adalah :

 

  • Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belummencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belum memikirkankemampuan pemeliharaan untuk jangja waktu lama.
  • Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakanalgoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebihcepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakancetak biru sistem .
  • Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkanteknik perancangan yang baik.

 

Prototyping bekerja dengan baik pada penerapan-penerapan yang berciri sebagai berikut:

  • Resiko tinggi Yaitu untuk masalah – masalah yang tidak terstruktur dengan baik, ada perubahan yang besar dari waktu ke waktu, dan adanya persyaratan data yang tidak menentu.
  • Interaksi pemakai penting . Sistem harus menyediakan dialog on-line antara pelanggandan komputer.
  • Perlunya penyelesaian yang cepat
  • Perilaku pemakai yang sulit ditebak

 

  • Sitem yang inovatif. Sistem tersebut membutuhkan cara penyelesaian masalah dan penggunaan perangkat keras yang mutakhir
  • Perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek

 

 

Pengembangan TI melalui metode Prototypin

Metode Prototyping

Secara umum tujuan pengembangan sistem informasi adalah untuk memberikan kemudahan dalampenyimpanan informasi, mengurangi biaya dan menghemat waktu, meningkatkan pengendalian,mendorong pertumbuhan, meningkatkan produktifitas serta profitabilitas organisasi. Dalam beberapatahun terakhir ini peningkatan produktifitas organisasi ini dibantu dengan berkembangnya teknologikomputer baik hardware maupun softwarenya. Tetapi tidak semua kebutuhan sistem informasi dengankomputer itu dapat memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi organisasi.Keterbatasan sumber daya dan anggaran pemeliharaan memaksa para pengembang sistem informasiuntuk menemukan jalan untuk mengoptimalkan kinerja sumber daya yang telah ada.

 

Karakteristik dari suatu sistem informasi manajemen yang lengkap tergantung dari masalah yangdihadapi, proses pengembangannya dan tenaga kerja yang akan dikembangkannya. Seiring denganperkembangan permasalahan karena berubahnya lingkungan yang berdampak kepada perusahaan makayang menjadi parameter proses pengembangan sistem informasi yaitu masalah yang dihadapi, sumberdaya yang tersedia dan perubahan, sehingga hasil pengembangan sistem informasi manajemen baikyang diharapkan oleh perorangan maupun oleh organisasi turut berubah.

 

Perubahan tersebut pada akhirnya menimbulkan ketidakpastian dan menambah kompleks/rumitmasalah yang dihadapi oleh para analis sistem informasi. Metode tradisional seperti SDLC dianggaptidak lagi mampu memenuhi tantangan perubahan dan kompleksnya masalah yang dihadapi tersebut.Sekitar awal tahun delapan puluhan, para profesional dibidang sistem informasi memperkenalkan satumetode pengembangan sistem informasi baru, yang dikenal dengan nama metode prototyping.

Metode prototyping sebagai suatu paradigma baru dalam pengembangan sistem informasi manajemen,tidak hanya sekedar suatu efolusi dari metode pengembangan sistem informasi yang sudah ada, tetapisekaligus merupakan refolusi dalam pengembangan sistem informasi manajemen. Metode ini dikjatakanrefolusi karena merubah proses pengembangan sistem informasi yang lama (SDLC).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CASE TOOL

 

I. Pengertian Case Tool

CASE adalah perangkat komputer yang berbasis produk yang bertujuan untuk mendukung satu atau lebih kegiatan rekayasa perangkat lunak dalam proses pengembangan software. Penulis lainnya telah berusaha untuk membuat finer-grained distinctions berbeda antara ent kelas CASE alat bersama sejumlah dimensi. Distinctions yang paling umum adalah:
1. Antara orang dan alat yang bersifat interaktif (seperti desain mendukung metode alat) dan orang-orang yang tidak (seperti kompilator). Mantan kelas kadang-kadang disebut CASE tool, sedangkan yang kedua kelas yang disebut alat-alat pembangunan.
2. Antara orang dan alat yang mendukung kegiatan di awal siklus hidup dari soft ware proyek (seperti persyaratan desain dan dukungan alat-alat) dan orang-orang yang digunakan nanti dalam siklus hidup (seperti kompiler dan alat uji dukungan). Mantan kelas kadang-kadang disebut front-end CASE tool, dan yang kedua adalah kembali disebut-akhir CASE tools.
3. Antara orang dan alat yang khusus untuk tertentu siklus hidup-langkah atau domain (seperti persyaratan perangkat atau alat coding) dan orang-orang yang umum di sejumlah langkah siklus hidup atau domain (seperti dokumentasi atau alat konfigurasi manajemen alat). Mantan kelas kadang-kadang disebut vertikal CASE tool, sedangkan yang kedua kelas dipanggil horisontal CASE tools.

 

Secara umum seorang software engineer maupun engineer dari disiplin ilmu yang lain dalam membangun/mengembangkan suatu produk, memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Mengetahui manfaat tools yang dapat membantu dalam membangun/mengembangkan suatu produk.

2. Mampu mengorganisasikan tools yang memungkinkan untuk bekerja cepat dan efisien.

3. Memiliki pengetahuan teknik membangun/mengembangkan produk serta handal dalam menggunakan tools untuk membantu pekerjaannya.

 

Dalam software engineering telah dikenal banyak tools (computer-base system) yang dikenal dengan Computer-Aided Software Engineering (CASE). CASE merupakan suatu teknik yang digunakan untuk membantu satu atau beberapa fase dalam life-cycle software, termasuk fase analisis, desain, implementasi dan maintenance dari software tersebut. Manfaat CASE tools untuk software engineer dijabarkan sebagai berikut:

1. CASE tools memperbesar kemungkinan otomatisasi pada setiap fase life-cycle software.

2. CASE tools sangat membantu dalam meningkatkan kualitas design model suatu software sebelum software itu dibangun/dikembangkan, baik itu untuk software yang dibangun dalam simple maupun complex environment.

 

CASE tools diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Upper CASE. CASE tools yang didesain untuk mendukung perencanaan, identifikasi, dan seleksi proyek (permulaan dari perencanaan proyek), tepatnya pada fase analisis dan desain dari suatu system Tools yang termasuk kelas ini adalah jenis Diagramming tools, Form and report generators, dan Analysis tools. Contoh CASE tools: Cradle, PRO-IV Workbench, ProKit*WORKBENCH.

2. Lower CASE. CASE tools yang didesain untuk mendukung tahap implementasi dan maintenance dari SDLC. Tools yang termasuk kelas ini adalah jenis Code generators.
Contoh CASE tools: Level/l-User Sensitive CASE, PRO-IV application Development.

3. Cross life-cycle CASE/Integrated CASE (I-CASE). CASE tools yang dirancang untuk mendukung aktifikas-aktifitas yang terjadi pada beberapa fase dari SDLC. Mengkombinasikan Upper dan Lower CASE menjadi satu. Tools yang termasuk kelas ini adalah jenis Project management tools. Contoh CASE tools: Rational Rose, Poseidon, ArgoUML, Catalyze, in-Step, Juggler, PRINCE.

 

Dimana CASE dapat digunakan? CASE tools digunakan dalam semua aktifitas software engineer, termasuk dalam proses analisis, desain, implementasi, instalasi bahkan maintenance, baik pada lingkungan yang sederhana sampai yang kompleks yang mencakup: database, people, hardware, network, operating system.

Bagaimana cara menggunakan CASE? Dalam menggunakan suatu CASE tools, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Diantaranya:

1.Lakukan studi terhadap teknologi yang ada agar kita bisa mempersiapkan dampak perubahan teknologi yang akan terjadi nantinya, sehingga model yang dibangun nantinya bisa fleksibel terhadap perubahan.

2.Evaluasi bagaimana jika organisasi yang sudah ada harus dibangun ulang agar bisa mengambil keuntungan dari teknologi baru.

3.Tetapkan suatu ketentuan untuk mengganti sistem yang lama dengan teknologi baru yang paling efektif.

4.Tentukan suatu metodologi pembangunan sistem.

II. Fase Pengembangan dan Fase Pemeliharaan

Kedua fase ini tidak berada dalam satu fase, karena kedua fase ini memiliki fase/tahapan-tahapan masing-masing. Namun fase pemeliharaan didalam pengembangan secara cyclic ini, berada didalam fase pengembangan atau menjadi salah satu kegiatan fase pengembangan perangkat lunak. Namun walaupun begitu fase pemeliharaan memiliki fase kegiatan tersendiri setelah system diinstall dan dipakai. Pemeliharaan mencakup koreksi dan perbaikan berabagai error yang ada.

Pengembangan perangkat lunak yang bersifat cyclic meliputi kegiatan-kegiatan antara lain :

1. Studi dan Analisa

2. Desain global

3. Desain detail

4. Implementasi

5. Operasi dan Pemeliharaan

Jadi kedua fase ini tidak berada dalam satu fase tertentu, namun secara syclyc fase pemeliharaan menjadi bagian dari kegiatan fase pengembangan perangkat lunak.

 

III. Aneka Software Case Tool

Case merupakan suatu teknik yang digunakan untuk membantu satu atau beberapa fase dalam life-cycle software,termasuk fase analisis,desain,implementasi dan maintenance dari software.

Manfaat case tools untuk software engineer adalah :

1.Memperbesar kemungkinan otomatisasi pada setiap fase life-cycle software.

2.Membatu dalam meningkatkan kualitas design model suatu software sebelum software itu dibangun/dikembangkan,baik itu untuk software yang dibangun dalam simple maupun complex environment.

 

Contoh Software Upper Case :

1. Photoshop : perangkat lunak editor citra buatan adobe system yang dikhususkan untuk pengeditan foto/gambar dan pembuatan efek.

2. Ken Rename : software dengan utilitas untuk mengubah nama tambahan jumlah file dan memiliki pohon direktori untuk memilih file.Ken rename memiliki banyak kebiasaan pintas keyboard untuk membantu pengguna memastikan aliran cepat dan mudah dari aplikasi.

3. Adobe Premier : perangkat lunak editor yang dikhususkan untuk pengeditan video/film dengan berbagai efek.

4. Batch File Rename : Aplikasi yang mempu mengkonversi file ke dalam share point kompatibel serta format yang kompatibel internet dan menyediakan fitur yang berbeda untuk nomor renumbering urutan dan mengubah nama file musik Mp3 dengan bantuan tag seperti album,judul.

5. Software Password Generator : program yang dirancang untuk menghasilkan crack,pasword dengan mudah dan cepat,kita dapat mengubah password yang sangat kuat hingga 128 panjang karakter untuk semua acount.sementara untuk membuat sandi,kita dapat menggunakan huruf,angka,simbol,dan juga sebagai kombinasi.

6. ACSESE

7. VISIO

8. NAFICAT

 

Contoh Software Lower Case :

1. Java : bahasa pemograman yang dapat dijalankan di berbagai komputer termasuk telepon dan dapat dikembangkan ke dalam berbagai aplikasi.

2. Netbeans : Software untuk pengembangan aplikasi desktop java,dan sebuah Integrated Development Environment (IDE) yang dibangun menggunakan platform NetBeans.Platform NetBeans memungkinkan aplikasi dibangun dari sekumpulan komponen perangkat lunak moduler (arsip java yang memuat kelas-kelas java untuk berinteraksi dengan NetBeans Open API dan file manifestasi yang mengidentifikasinya sebagai modul.

3. BPM ( bussiness process management ) tool : perangkat lunak yang disediakan untuk membantu organisasi dalam mengelola proses bisnis yang dimilikinya mulai dari tahap perancangan, lalu otomasi (komputerisasi), kemudian eksekusi, hingga tahap monitoring.

4. Visual Basic : Pemograman yang mudah digunakan untuk pengembangan aplikasi,baik itu aplikasi kecil maupun aplikasi besar.

5. Desk Tool : alat yang dapat digunakan untuk meminimalkan aplikasi apapun,juga dapat membuat aplikasi transparan.Desk Tool merupakan paket dengan banyak tools canggih lainnya seperti CritHide (menyembunyikan semua aplikasi yang berisi kata kunci particular).

6. MS SQL

7. FOXPRO

8. ORACLE

9. INNOSET UP

10.VB DEPLOYMENT

 

Tujuan Ekonomi Islam 1. Menunaikan sebahagian daripada tuntutan ibadah Mengambil kira asas-asas dan ruang lingkup ciri-cirinya, nyatalah tujuan ekonomi Islam adalah bersifat ibadah dan melaksanakannya bererti melaksanakan sebahagian daripada tuntutan ibadah yang menyeluruh. Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: “Sesungguhnya kamu tidak keluarkan satu nakah pun yang kamu caridi jalan Allah melainkan kamu diberi pahala kerananya, sekalipun nafkah yang kamu berikan untuk isterimu.” (Bukhari, Muslim) Roh disebalik semua kegiatan ekonomi Islam ialah taawun atau kerjasama. Oleh itu sesiapa yang membantu saurara-saudaranya dan masyarakatnya semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah, maka itu merupakan satu ibadah. 2. Menegakkan keadilan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Kegiatan ekonomi yang berteraskan kepada kesaksamaan serta menghapuskan penindasan dan penipuan adalah satu sistem yang benar-benar dapat menegakkan keadilan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Di atas dasar inilah Islam membenarkan jual beli dan mengharamkan riba dan segala jenis penipuan. Sistem ekonomi yang berteraskan kepada kerjasama dan kesaksamaan akan mewujudkan rasa kasih sayang, sifat tanggungjawab dan tolong-menolong di antara satu sama lain. Kesan daripadanya bukan sahaja individu-individu dapat menanurkan pembangunan dirinya, malah negara-negara dapat bantu-membantu dalam memenuhi kemaslahatan seluruh umat manusia. 3. Menghapuskan kemiskinan dan mewujudkan keadaan guna tenaga penuh serta kadar perkembangan ekonomi yang optimum Dalam pengertian ekonomi sebagai satu amanah Allah ke atas kaum muslimin, maka di antara tujuan ekonomi dalam Islam ialah untuk menghapuskan ataupun mengatasi masalah kemiskinan, mewujudkan peluang pekerjaan dan mengekalkan kadar pertumbuhan yang optimum dan susuai menurut perkembangan kebendaan dan kerohaniaan masyarakat. 4. Mewujudkan kestabilan barangan sejajar dengan nilai matawang Sistem ekonomi mewujudkan kestabilan pasaran melalui sikap setiap anggota masyarakat yang tidak mementingkan diri sendiri serta sentiasa bersedia membantu dan berkorban demi kepentingan anggota masyarakat yang lain. Harga sesuatu barangan di pasaran meningkat atau dinaikkan kerana kekurangan sumber bahan ataupun kerana bertambah permintaan biarlah dengan sebab yang betul dan di atas dasar yang makruf dan munasabah dan bukan unyuk mengongkong atau menyempitkan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan sstem ekonomi Idlam yang merupakan kesatuan terhadap asas-asas sosio-ekonomi dan politik ini bertujuan mengimbangkan nilai matawang dengan pulangan barangan dan perkhidmatan yang diperolehi oleh setiap anggota masyarakat; malah di antara negara-negara di dunia. 5. Mengekalkan keamanan dan kepatuhan terhadap undang-undang Rasatidak puas hati manusia dalam sesebuah masyarakat lantaran pengagihan ekonomi yang tidak seimbang dan aktiviti-aktiviti yang diarahkan hanya untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu, akan membawa pelbagai gejala yang bahaya kepada manusia. Asas-asas ekonomi Islam bersandarkan kepada tuntutan tuntutan iman dan akhlak serta sedikit kuatkuasa undang-undang. Namun dalam pengertian sistem akhlak Islam yang sebenar, tuntutan-tuntutan akhlak ini tidak dapat dilaksanakan secara teguh tanpa bernaung di bawah satu sistem yang mempunyai kewibawaan untuk menegakkan undang-undang. Dengan kesyumulan sistem-sistem Islam inilah, tujuan ekonomi dalam mewujudkan kepatuhan orang ramai terhadap undang-undang serta mengekalkan keamanan tercapai. 6. Mewujudkan keharmonian hubungan antarabangsa dan memasikan kekuatan pertahanan negara Menurut Islam, keharmonian hubungan antarabangsa wujud di atas dasar kerjasama sosial dan ekonomi, bukan di atas penindasanterhadap keduanya sebagaimana yang berlaku pada hari ini. Sebab itulah Islam juga tidak menganggap bahawa pertahanan negara hanya bergantung kepada semangat keimanan atau bilangan tenaga tentera yang ramai tetapi kekuatan pertahanan juga bergantung kepada kekuatan ekonomi, sama ada dari sudut produktiviti yang tinggi ataupun pandangan musuh yang sentiasa gerun terhadap negara Islam sendiri. Atas dasar ini Allah memerintahkan kaum muslimin agar bersip sedia dengan apa sahaja kekuatan yang dapat menimbulkan rasa takut musuh teradap mereka. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfal:60) Rujukan: Risalah Usrah 3 – Sistem-sistem Islam, Abu Urwah Sumber: msmonline.net/seminar/?p=235

ULASAN :

menurut saya artikel yang ada pada blog Bpk Hadi Cahyono adalah suatu gambaran dalam berbisnis yang selalu memandang etika-etika dalam berbisnis atau melakukan transaksi apapun yang selalu mengedepankan nilai- nilai kejujuran dan juga bahwa kita dalam melakukan segala sesuatu kegiatan baik dalam bertransaksi dgn seseorang itu harus jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu,sebab salah satu tujuan dalam ekonomi islam adalah menuaikan sebagian dalam ibadah, sehingga selalu menjunjung nilai-nilai kejujuran. sebab apabila kita melakukan kegiatan dalam berbisnis atau kegitan yg berhubungan dgn ekonomi yang berdasarkan atas asas kebersamaan serta m enghapuskan penindasan dan juga penipuan adalah suatu sistem yg benar-benar dapat menegakkan keadilan sosial dan ekonomi dalam masyarakat di sekitar kita. Dan dalam asas inilah Islam membenarkan jual beli dan mengharamkan riba dalam kegiatan ekonomi

sumber : hadicahyono.dosen.narotama.ac.id

KASUS MONOPOLI PASAR
STUDI KASUS CARREFOUR INDONESIA
I.                    Pendahuluan
Latar belakang masalah

Bisnis ritel atau perdagangan eceran memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan bisnis di Indonesia, baik ditinjau dari sudut konsumen maupun produsen.   Dari sudut produsen, pedagang eceran dipandang sebagai ujung tombak perusahaan yang akan sangat menentukan laku tidaknya produk perusahaan.  Melalui pengecer pula para produsen memperoleh informasi berharga tentang komentar konsumen terhadap barangnya seperti bentuk, rasa, daya tahan, harga dan segala sesuatu mengenai produknya.   Sementara jika dipandang dari sudut konsumen, pedagang eceran juga memiliki peranan yang sangat penting karena bertindak sebagai agen yang membeli, mengumpulkan, dan menyediakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keperluan pihak konsumen.

Seiring dengan perkembangan, persaingan usaha , khususnya pada bidang ritel diantara pelaku usaha semakin keras. Untuk mengantisipasinya, Pemerintah dan DPR menerbitkan Undang Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Praktek Antimonopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dengan hadirnya undang-undang tersebut dan lembaga yang mengawasi pelaksanaannya, yaitu KPPU, diharapkan para pelaku usaha dapat bersaing secara sehat sehingga seluruh kegiatan ekonomi dapat berlangsung lebih efisien dan memberi manfaat bagi konsumen.

Di dalam kenyataan yang terjadi, penegakan hukum UU praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini masih lemah. Dan kelemahan tersebut ”dimanfaatkan” oleh  pihak CARREFOUR Indonesia untuk melakukan ekspansi bisnis dengan mengakuisisi PT Alfa Retailindo Tbk. Dengan mengakuisisi 75 persen saham PT Alfa Retailindo Tbk dari Prime Horizon Pte Ltd dan PT Sigmantara Alfindo. Berdasarkan laporan yang masuk ke KPPU, pangsa pasar Carrefour untuk sektor ritel dinilai telah melebihi batas yang dianggap wajar, sehingga berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.

 

Permasalahan

            Dari latar belakang di atas dapat ditarik suatu permasalahan sebagai berikut: Sejauh mana PT Carrefour melanggar Undang Undang No.5 Tahun 1999, sanksi apa yang telah diberikan untuk pelnggaran tersebut, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dalam menangani kasus tersebut?
           
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1.       Mengetahui pelanggaran PT Carrefour terhadap Undang Undang No.5 Tahun 1999
2.       Mengetahui alternative pemecahan masalah terhadap pelanggaran yang telah dilakukan oleh PT Carrefour.
II.                  Pembahasan
Kasus PT Carrefour Indonesia dan keputusan KPPU
      Kasus PT Carrefour sebagai Pelanggaran UU No. 5  Tahun 1999. Salah satu aksi perusahaan yang cukup sering dilakukan adalah pengambil alihan atau akuisisi. Dalam UU No.40/2007 tentang Perseroan terbatas disebutkan bahwa hanya saham yang dapat diambil alih. Jadi, asset dan yang lainnya tidak dapat di akuisisi.
      Akuisisi  biasanya menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan. Dalam bahasa inggrisnya  dikenal dengan istilah acquisition atau take over . pengertian acquisition atau take over  adalah pengambilalihan suatu kepentingan pengendalian perusahaan oleh suatu perusahaan lain. Istilah Take over  sendiri memiliki 2 ungkapan , 1. Friendly take over (akuisisi biasa) 2. hostile take over (akuisisi yang bersifat “mencaplok”) Pengambilalihan tersebut ditempuh dengan cara membeli saham dari perusahaan tersebut.
       Esensi dari akuisisi adalah praktek jual beli. Dimana perusahaan pengakuisisi akan menerima hak atas saham dan perusahaan terakuisisi akan menerima hak atas sejumlah uang harga saham tersebut. Menurut pasal 125 ayat (2) UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menjelaskan bahwa pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan. Jika pengambilalihan dilakukan oleh perseroan, maka keputusan akuisisi harus mendapat persetujuan dari RUPS. Dan pasal yang sama ayat 7 menyebutkan pengambilalihan saham perseroan lain langsung dari pemegang saham tidak perlu didahului dengan membuat rancangan pengambilalihan ,tetapi dilakukan langsung melalui perundingan dan kesepakatan oleh pihak yang akan mengambil alih dengan pemegang saham dengan tetap memperhatikan anggaran dasar perseroan yang diambil alih.
      Dalam mengakuisisi perusahaan yang akan mengambilalih harus memperhatikan kepentingan dari pihak yang terkait yang disebutkan dalam UU. No. 40 tahun 2007, yaitu Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, kreditor , mitra usaha lainnya dari Perseroan; masyarakat serta persaingan sehat dalam melakukan usaha.
     Dalam sidang KPPU tanggal 4 november 2009, Majelis Komisi menyatakan Carrefour terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 17 (1) dan Pasal 25 (1) huruf a UU No.5/1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.. Pasal 17 UU No. 5/1999, yang memuat ketentuan mengenai larangan bagi pelaku usaha untuk melakukan penguasaan pasar, sedangkan Pasal 25 (1) UU No.5/1999 memuat ketentuan terkait dengan posisi dominan.
    
     majelis Komisi menyebutkan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh selama pemeriksaan perusahaan itu pangsa pasar perusahaan ritel itu meningkat menjadi 57,99% (2008) pasca mengakuisisi Alfa Retailindo. Pada 2007, pangsa pasar perusahaan ini sebesar 46,30%. sehingga secara hukum memenuhi kualifikasi menguasai pasar dan mempunyai posisi dominan, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 17 Ayat 2 UU No.5 Tahun 1999.
     Berdasarkan pemeriksaan, menurut Majelis KPPU, penguasaan pasar dan posisi dominan ini disalahgunakan kepada para pemasok dengan meningkatkan dan memaksakan potongan-potongan harga pembelian barang-barang pemasok melalui skema trading terms. Pasca akuisisi Alfa Retailindo, sambungnya, potongan trading terms kepada pemasok meningkat dalam kisaran 13%-20%. Pemasok, menurut majelis Komisi, tidak berdaya menolak kenaikan tersebut karena  nilai penjualan pemasok di Carrefour cukup signifikan.
     
III.                Saran dan kesimpulan
Kesimpulan
Pelanggaran etika bisnis dapat melemahkan daya saing hasil industri dipasar internasional. Ini bisa terjadi sikap para pengusaha kita. Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat keprihatinan banyak pihak. Pengabaian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara.
Saran
            Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
1.       pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri untuk tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain
2.       Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat,
3.       Pelaku bisnis hendaknya menciptakan persaingan bisnis yang sehat
4.       Pelaku bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang
5.       Pelaku bisnis harus konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama

 

Welcome to Web Blog Mahasiswa Universitas Narotama Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!